8 Mitos Tentang Obat yang Masih Banyak Dipercaya
8 Mitos Tentang Obat yang Masih Banyak Dipercaya
Ada banyak kesalahpahaman umum tentang obat resep. Dengan kekuatan ciral sosial media, kesalahan ini semakin menyebar dan kadang dianggap sebagai kebenaran. Beruntung seorang dokter Inggris bersedia meluangkan waktunya untuk meluruskan. Dr Helen Webberley, seorang GP (dokter umum) di oxfordonlinepharmacy.co.uk, mengungkapkan beberapa kesalahpahaman umum tentang obat resep yang terjadi di masyarakat.
1. Mitos: Jangan mengikuti aturan tentang parasetamol
terlalu serius
Penelitian terbaru menunjukkan hampir sebagian kecil orang dewasa minum parasetamol melebihi batas yang direkomendasikan dalam waktu 24 jam. Meski petunjuk dosis maksimum hanya sebagai pedoman, tapi mengabaikan mereka bisa berakibat fatal.
“Parasetamol bekerja paling baik dengan dosis yang tepat - yaitu dua tablet sekali minum untuk orang dewasa dengan maksimum delapan tablet per hari” kata Dr Webberley.
“Ada dosis maksimum yang jelas yang tidak boleh dilanggar atau Anda bisa overdosis.”
“Dan jangan
mencoba untuk minum setengah dosis karena khasiatnya tidak akan bekerja.”
2. Mitos: Vaksinasi flu membuat Anda tambah sakit
Setiap tahun, orang takut melakukan vaksinasi flu karena mereka percaya bahwa mereka akan menderita flu ringan tak lama setelah disuntik vaksin. Namun dalam kenyataannya, vaksin tidak mengandung virus flu hidup, yang berarti tidak dapat masuk ke dalam sistem tubuh. Sebaliknya, setiap nyeri atau gejala demam yang diderita setelah disuntik sebenarnya akibat tubuh bereaksi terhadap vaksin.
“Vaksin dirancang untuk menciptakan respon kekebalan terhadap bakteri atau virus tertentu sehingga jika orang itu pernah bertemu salinan hidup dari infeksi itu, antibodi sudah siap di tempat untuk melawannya.” jelas Dr Webberley.
“Respon imun
inilah yang menyebabkan gejala-gejala penyakit flu, seperti kelelahan, demam,
sakit dan nyeri. Jadi Anda bereaksi terhadap vaksin daripada virus flu yang
sebenarnya.”
3. Mitos: Merek obat tertentu lebih
efektif daripada yang generik
“Obat dengan nama merek tertentu harganya jauh lebih mahal daripada obat generik tapi sebenarnya keduanya mengandung bahan aktif yang persis sama.” kata Dr Webberley.
“Kadang-kadang
tampak bahwa obat generik mungkin tidak bekerja dengan baik. Tapi saya pikir
ini lebih banyak karena efek plasebo. Sebagai dokter umum, kami harus menyadari
biaya pengobatan bagi masyarakat dan menggunakan versi termurah tapi memiliki
khasiat yang sama. Kita semua juga ingin tas desainer, tapi tas biasa juga bisa
berfungsi dengan baik.”
4. Mitos: Jangan peduli cara minum
tablet
Mungkin banyak yang tak peduli cara minum obat dengan baik. Tetapi menelan
obat tertentu tanpa air yang cukup akan benar-benar membuat obat berhenti
bekerja secara efektif.
“Semua pil
harus ditelan dengan banyak air agar bisa masuk ke dalam perut secepat mungkin.
Itu memastikan obat dapat memulai proses penyerapan di tempat yang tepat dan tidak
terjebak dalam tenggorokan.” kata Dr Webberley.
Dr Webberley
mengatakan juga sangat penting untuk membaca petunjuk cara meminum obat.
“Jika obat
tersebut dirancang untuk diserap di perut, maka lebih baik diminum pada saat
perut kosong. Namun, jika dari jenis yang mungkin akan mengiritasi lapisan
lambung, maka harus dikonsumsi dengan makanan.” katanya.
5. Mitos: Dokter tidak perlu tahu
vitamin apa yang selama ini diminum
Vitamin begitu banyak jenisnya hingga kita cenderung menganggap mereka
tidak berbahaya. Akibatnya, beberapa orang memilih tidak jujur terhadap dokter
tentang vitamin yang pernah diminum. Padahal dengan melakukan hal itu, Anda
telah membahayakan kesehatan Anda sendiri.
“Beberapa
vitamin akan melawan efek obat-obatan tertentu, sehingga dokter perlu tahu
persis apa yang Anda minum.” tegas Dr Webberley.
“Salah
contoh adalah bunga St John Wort (Hypericum performatum), yang mempengaruhi
efektivitas pil kontrasepsi.”
6. Mitos: Anda harus menyimpan obat
di kamar mandi
Ide menyimpan obat di kamar mandi atau dekat wastafel ini mungkin terlihat
bagus agar Anda selalu teringat untuk membawanya, namun yang demikian itu bisa
merusak kandungan dan khasiatnya.
“Sekali
lagi, ini adalah masalah membaca petunjuk tentang bagaimana obat-obatan harus
disimpan.” kata Dr Webberley.
“Beberapa
obat harus disimpan di lemari es, beberapa lainnya dalam ruang gelap, sementara
yang lainnya di lingkungan yang dingin. Jika tidak, obat-obatan itu dapat
dipengaruhi oleh kondisi lembab atau cahaya.”
7. Mitos: Obat alami jauh lebih aman
Masyarakat modern sangat sadar dengan bahaya bahan kimia yang masuk ke
dalam tubuh sehingga kata 'alami' terdengar seperti pilihan yang lebih masuk
akal. Sayangnya banyak obat-obatan alami (baca: herbal) tidak teruji secara
klinis dan manfaatnya pada didasarkan pada bukti anekdot saja.
“Saya juga
suka pengobatan diri sendiri dan meminta apoteker sebelum pergi ke GP, tetapi
ada kalanya orang pasti harus minum obat seperti yang diarahkan oleh dokter
mereka.” kata Dr Webberley.
“Contoh yang
baik adalah obat-obat untuk tekanan darah tinggi dan diabetes. Dengan segala
cara mereka mengadopsi kebiasaan sehat untuk mengurangi efek dari masalah ini,
tetapi jika dokter merekomendasikan obat, itu karena mereka telah terbukti
memiliki manfaat, seperti hidup lebih lama!”
8. Mitos: Obat penghilang rasa
sakit dapat menyasar bagian tertentu dari tubuh
Tahun lalu, pengadilan Australia memutuskan bahwa raksasa obat Reckitt
Benckiser tidak boleh memasarkan Nurofen sebagai obat mengatasi nyeri punggung,
nyeri datang bulan atau migrain secara terpisah.
Iklan
Reckitt Benckiser dianggap menyesatkan karena semua tablet obat tersebut
mengandung bahan aktif yang sama - ibuprofen lisin.
“Sebenarnya,
obat penghilang rasa sakit tidak bisa menyasar bagian tubuh yang sakit.
Beberapa obat penghilang rasa sakit sebenarnya obat anti-peradangan dan bagus
untuk nyeri tulang dan otot. Tetapi secara umum obat penghilang rasa sakit bisa
mengatasi semuanya.” kata Dr Webberley.
“Sebelum
membeli obat penghilang rasa sakit yang dirancang untuk menyembuhkan sakit
tertentu, lihatlah bahan aktifnya. Mungkin jauh lebih murah dengan membeli yang
merek generik.”
Komentar
Posting Komentar